Dari Kegelisahan Kota Hingga Krisis Lingkungan, Teater Api Indonesia dan Tangoing Jerman Bawa Realitas ke Panggung

Seni/Budaya/Kuliner 31 Oct 2026 14:45 • 4 min read • 5 views • By SATRIYA
Dari Kegelisahan Kota Hingga Krisis Lingkungan, Teater Api Indonesia dan Tangoing Jerman Bawa Realitas ke Panggung
Dari Kegelisahan Kota Hingga Krisis Lingkungan, Teater Api Indonesia dan Tangoing Jerman Bawa Realitas ke Panggung

SURABAYA, lintas-jatim.com – Kebisingan kota, polusi udara, kehidupan urban yang keras, hingga persoalan lingkungan menjadi bagian dari realitas yang menarik perhatian Peter Ohrt, sutradara Tangoing Performance dari Jerman, selama berada di Surabaya.

 

Pengalaman berhadapan dengan karakter kota ini bahkan memberinya perspektif baru dalam memahami ekspresi artistik Teater Api Indonesia. Kegelisahan tentang hubungan manusia dengan lingkungan dan berbagai persoalan kehidupan itulah yang juga menemukan ruang dalam dua pertunjukan yang akan dihadirkan Tangoing Performance dan Teater Api Indonesia pada 1 dan 2 November 2026 di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur.

 

Dalam Artist Talk yang berlangsung Jumat malam (30/10/2026) di Wisma Jerman, Surabaya, Peter Ohrt berbagi pengalaman sekaligus menjelaskan gagasan artistik yang dibawa Tangoing Performance. Diskusi tersebut menghadirkan Peter bersama Luhur Kayungga, sutradara Teater Api Indonesia, dengan dipandu Ranggi dari Wisma Jerman.

 

Peter secara terbuka mengungkapkan keterkejutannya terhadap karakter Surabaya.

 

"Surabaya itu berisik," ucapnya.

 

Ia juga menyayangkan kondisi polusi di kota ini. Namun, pengalamannya tersebut tidak berhenti sebagai kesan personal tentang sebuah kota. Peter justru mencoba memahami Surabaya dalam konteks yang lebih luas, sebagai kota besar dengan kehidupan yang keras.


Dari pengamatannya, karakter Surabaya memberinya pemahaman mengapa Teater Api Indonesia memiliki ekspresi artistik yang keras dan cenderung fatalistik. Ada hubungan antara realitas lingkungan tempat manusia hidup dengan cara mereka memandang dan mengekspresikan kehidupan melalui seni.

 

Perspektif mengenai hubungan manusia dengan lingkungan juga menjadi salah satu gagasan yang dibawa Tangoing Performance melalui karya Now Here (NOWHERE). Peter mengungkapkan bahwa melalui pertunjukan tersebut, Tangoing ingin menyampaikan bagaimana manusia hidup di tengah alam dan bagaimana manusia seharusnya hidup bersama alam.

 

Sejumlah pesan lingkungan akan disampaikan melalui pertunjukan itu. Alam tidak sekadar menjadi latar kehidupan manusia, tetapi merupakan bagian dari kehidupan yang semestinya dijaga dan dihargai.

 

Secara artistik, Tangoing Performance mengembangkan pendekatan teater berbasis konsep Amerta dan *free movement*. Eksplorasi gerak tubuhnya merujuk pada praktik dan pemikiran Prapto Suryodarmo, tokoh seni gerak asal Solo.

 

Peter menjelaskan bahwa konsep teater Tangoing tidak dibangun secara kaku. Bahkan, dalam proses tertentu, pertunjukan bisa berkembang tanpa harus berangkat dari konsep yang sepenuhnya ditentukan sejak awal.

 

"Ada hal-hal yang bisa menjadi pemicu ide pada saat latihan, atau bahkan saat pementasan. Ketika saya melihat ada sesuatu yang menarik dari audiens, saya bisa bergerak dengan cara tertentu, berbeda dari apa yang semula direncanakan. Itu bisa terjadi," tutur Peter dalam bahasa Inggris.

 

Baginya, gerak tubuh merupakan medium yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Respons terhadap situasi, ruang, dan audiens dapat menjadi bagian dari perkembangan pertunjukan. Pendekatan ini berbeda dengan kecenderungan artistik Teater Api Indonesia yang menurut Peter lebih keras dan fatalistik.

 

Namun, perbedaan tersebut tidak membuat Peter ingin menempatkan kedua kelompok dalam dikotomi kebudayaan Barat dan Timur. Ia berharap kolaborasi ini menghadirkan masing-masing seniman sebagai pribadi yang utuh dan setara, tanpa dibatasi label kebangsaan maupun asal kebudayaan.

 

Sementara itu, Luhur Kayungga melihat bahwa perbedaan kultur dan estetika tubuh memang menjadi tantangan tersendiri dalam proses penciptaan karya bersama. Karena itu, dialog menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman dan menemukan bentuk pertunjukan yang dapat diterima kedua kelompok.

 

"Kecenderungan gerak tubuh dan perbedaan kultur ini membuat kami harus melakukan dialog, membahas gagasan, dan bentuk-bentuk yang akan ditampilkan tanpa memaksakan suatu bentuk atau pemikiran," ungkap Luhur.

 

Proses tersebut akhirnya membawa kedua kelompok pada sebuah titik temu. Bukan dengan menghilangkan perbedaan, melainkan dengan membangun ruang kreatif yang memungkinkan gagasan masing-masing berkembang.

 

Dalam pertunjukan kolaboratif Kopral Sudrun, Luhur mengungkapkan bahwa karya tersebut akan menghadirkan refleksi sekaligus kritik terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia. Menariknya, persoalan-persoalan tersebut ternyata tidak hanya menjadi masalah Indonesia, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat global.

 

Salah satu isu yang turut menjadi perhatian adalah lingkungan. Persoalan lingkungan yang terjadi di Indonesia memiliki keterkaitan dengan problem yang dihadapi masyarakat dunia. Karena itu, Kopral Sudrun tidak hanya berbicara mengenai realitas di dalam negeri, tetapi juga mengajak audiens melihat persoalan yang lebih luas dan melampaui batas-batas negara.

 

Melalui pertunjukan tersebut, Teater Api Indonesia dan Tangoing Performance menghadirkan seni sebagai ruang refleksi dan kritik. Panggung tidak hanya menjadi tempat untuk menyampaikan ekspresi artistik, tetapi juga medium untuk membaca kembali berbagai persoalan kehidupan.

 

Dua karya dengan pendekatan berbeda akan ditampilkan dalam rangkaian pementasan tersebut. Pada Minggu, 1 November 2026, Tangoing Performance dari Jerman akan menghadirkan Now Here (NOWHERE), yang membawa eksplorasi gerak dan refleksi mengenai hubungan manusia dengan alam.

 

Sementara pada Senin, 2 November 2026, Tangoing Performance bersama Teater Api Indonesia akan menampilkan Kopral Sudrun, sebuah pertunjukan kolaboratif yang menghadirkan kritik dan refleksi atas persoalan sosial serta lingkungan.

 

Kedua pertunjukan berlangsung di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, dengan open gate pukul 19.00 WIB.

 

Tiket dapat dipesan secara daring melalui tautan https://bit.ly/NontonPentasTAI atau membeli langsung di lokasi (on the spot/OTS). Pembelian tiket OTS dilayani paling lambat satu jam sebelum open gate pukul 19.00 WIB. (PT.MSR)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Recent Articles